Menilik Komik Indonesia

 

Penulis:  Iwan Zahar, Karna Mustaqim, dan Tengku Fausan, Berti Alia Bahaduri, Dewi Isma Aryani, Gagas Nir Galing, Johanes Park, Lalita Gilang, Muhamad Lutfi Habibi, Patra Aditia, Swesti Anjampiana Bentri, Restu Hendriyani, Magh’firoh, Sayyid Farhan, Arsyam, Harits Setyawan, Muhammad Daniel Fahmi Rizal, Pungky Febi Arifianto, Restu Ismoyo Aji, M. Hadid, Septiana Budyastuti, Luai Ihsani Fahmi, Bintang S, Zia Ulhaq

Editor: Daru Tunggul Aji, Terra Bajraghosa, dan  Edi Jatmiko

ISBN :

Tahun terbit: 2023

Stock: Ada

Harga: Rp.

SINOPSIS:

Komik berkembang dari media cetak hingga kini berada di arus petumbuhan komik digital baik secara media maupun pada distribusi. Meskipun komik cetak masih bisa kita temukan baik pada offline maupun online marketplace, namun dominasi mulai bergeser pada komik digital yang dibaca melalui gawai dengan cara, karakter dan pola yang baru. Internet memberikan keleluasaan pada distribusi global dan menunjukkan kecenderungan pembauran, komikus tak lagi berada skup-skup regional tertentu, internet memberikan akses dalam menunjukkan eksistensi yang spesifik kepada public yang masif, mereka yang dulu tak terdengar karena beredar di kalangan terbatas saja, kini muncul dan mengukuhkan identitasnya dengan karya-karya yang menambah keragaman baik visual maupun narasinya.

Komik  pada  beberapa  penikmatnya  tidak  hanya menjadi  bentuk kebudayaan bertutur secara visual, namun   komik   mempengaruhi   hingga   sistem   gagasan ideologis suatu individu yang tumbuh bersama komik, terutama sejak usia dini, dalam intensitas cukup  konstan. Teknologi-teknologi baru dan kehadiran media sosial memungkinkan pegiat, pembuat dan pengamat komik terpantik semangat mencurahkan pikiran gagasan dan sudut pandang personal kedalam tutur visual komik, komikus tak melulu harus memiliki kecapakan visual dengan pengalaman maupun latar pendidikan seni rupa, tak harus pula memiliki koneksi dengan penerbit seperti jaman komik cetak. Ke-masif-an menimbulkan keberagaman konten, pergeseran standar umum, meluasnya tema-tema dan merapatnya intensitas publikasi. Kondisi dimasa sebelum massif teknologi informasi seperti halnya ketimpangan akses terhadap ruang etalase, keterbatasan distribusi, ketiadaan inkubasi karya komik baik bagi komikus maupun publik; ketiadaan data yang terintegrasi tentang para pelaku seni komik dan karyanya kini teratasi oleh media sosial dan ruang platform virtual penampil karya komik.