Festival Warga: Profil dan Dampak Sosial Ekonominya

Penulis : Kurniawan Adi Saputro dan Budhi Hermanto

ISBN :

Tahun terbit: 2024

Stock: Ada

Harga: Rp.

SINOPSIS:

Festival Warga menjadi pilihan dalam penelitian ini bukan tanpa alasan, salah satu yang menjadi perhatian kami adalah didalam festival warga para pemrakarsa adalah orang yang menjadi bagian dari komunitas penyelenggara. Didalamnya terdapat spririt yang menjadi tonggak kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Sebagai contoh, Ngayogjazz dan Festival Damar Kurung setiap tahun diselenggarakan di desa yang berbeda-beda di kota yangsama sehingga warga penyelenggaranya berbeda-beda. Meski demikian, para pemrakarsanya adalah orang-orang dari kota/provinsi setempat yang memiliki ikatan emosional dengan tempat tersebut dan tumbuh dalam kebudayaan yang sama. Dengan demikian, beberapa kasus festival, para pemrakarsa bukanlah warga desa tempat penyelenggaraan festival, tetapi dari wilayah budaya yang sama dan memiliki kedekatan dengan budaya tersebut. Lebih jauh lagi, para pemrakarsa tidak semata-mata menjadikan desa tempat pelaksanaan hanya sebagai pemilik tempat, yang sekadar dimintai izin. Para pemrakarsa festival warga bermitra dengan warga desa dalam menentukan tempat pemanggungan, aliran pengunjung, hingga sebagian pengisi acara.Gambaran di atas salah satu semangat dalam mendasari penelitian ini, dimana penulis juga terlibat di dalam proses dibeberapa festival yang menjadi obyek penelitian ini. Terdapat 10 nama festival warga yang kami teliti yaitu: 1) Festival PanenKopi di Gayo, Provinsi Nanggore Aceh Darussalam; 2) Tao Silalahi Arts Festival di Dairi, Provinsi Sumatera Utara; 3) Pasa Harau Art and Culture Festival di Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat; 4) Festival Layang Lakbok di Ciamis, Provinsi Jawa Barat;5) Ngayogjazz di Daerah Istimewa Yogyakarta; 6) Tlatah Bocah di Magelang, Provinsi Jawa Tengah; 7) Dieng Culture Festival di Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah; 8) Damar Kurung Festival di Gresik, Provinsi Jawa Timur; 9) Mesiwah Pare Gumboh di Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan; dan 10) Panglipuran Village Festivaldi Bangli, Provinsi Bali. Kesepuluh festival warga diatas akan dikupas dalam enam bab yang mencerminkan semangat dari warga, oleh warga dan untuk warga. Yaitu festival sebagai wahana belajar, ketertanaman sosial dari festival warga, dan dampak ekonomi festival. Sebagai contoh festival sebagai wahana belajar bisa dibaca pada pengalaman di Festival Layang Lakbok, di mana pengalaman belajar di kota diterapkan di desa dengan pendekatan menejemen kampung yang pada akhirnya menciptakan sebuah daya tarik warga sekitar untuk beramai-ramai menyokong acara tersebut.