Penulis : Agustin Anggraeni; Annas Fitria Sa’adah; Galih Pangestu Jati; Megawati Atiyatunnajah; Tri Septiana Kurniati & Eli Irawati; Umilia Rokhani; Kardi Laksono; Puguh Windrawan.
Editor : Dr. Umilia Rokhani, S.S., M.A.; Dr. Zulisih Maryani, S.S., M.A.
ISBN :
Tahun terbit: 2025
Stock: Ada
Harga: Rp.
Perkembangan pemikiran dan sosio-kultural masyarakat membuka peluang terjadinya rekonsepsi seni sebagai bagian pengayaan dan penguatan karakter masyarakat itu sendiri. Hal ini menjadi pengembangan materi ilmu pengetahuan ketika dibahas dalam suatu ruang akademik. Ruang akademik yang dijadikan salah satu rujukan bagi civitas akademika berupa aktivitas penulisan karya ilmiah. Hal itu menjadi tugas pokok tenaga pendidik profesional terkait dengan kegiatan penelitian yang juga dapat mempengaruhi keaktualan informasi. Pengembangan ini juga berpengaruh terhadap materi-materi dalam proses kegiatan belajar mengajar, salah satunya di kelas mata kuliah umum. Dengan demikian, aktivitas publikasi terkait dengan pemikiran atas permasalahan-permasalahan seni yang membutuhkan rekonsepsi atas seni ditinjau dari keilmuan dari mata kuliah umum masih perlu senantiasa diangkat, dibahas, dianalisis, dan dikembangkan. Hal ini tentu saja mendorong pula eksistensi publikasi yang dilakukan oleh tenaga pendidik profesional di bawah UPT MPK.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi hal yang mutlak diperlukan sehingga setiap tenaga pendidik profesional tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan kualitas akademisnya melalui produksi karya ilmiah yang berkesinambungan. Pengembangan data lapangan dapat dijadikan titik pijak pengembangan konsep-konsep pemikiran bernilai kebaruan dengan mengikuti perkembangan pemikiran dan sosio kulturalnya. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) menerbitkan bunga rampai bidang seni berdasarkan rumpun mata kuliah umum sebagai salah satu wadah untuk mengakomodir kegiatan penulisan ilmiah dengan tajuk Rekonsepsi Seni dalam Konteks Penyesuaian, Pengembangan, dan Pengayaan Karakter Seni dan Budaya Masyarakat. Luaran penerbitan bunga rampai ini adalah mampu meningkatkan kreativitas penulisan ilmiah berdasarkan data di lapangan dan mampu mengemas suatu bentuk bunga rampai yang mampu merekonsepsi seni ditinjau dari kebidangan mata kuliah umum. Sementara itu, tujuannyaadalah untuk mengimplementasikan wawasan mengenai penulisan karya ilmiah serta mengimplementasikan strategi menulis efektif dan produktif dalam rangka pengembangan ruang akademik kebidangan mata kuliah umum dengan mengaitkan pada rekonsepsi seni ditinjau dari kebidangan mata kuliah umum.
Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Dari delapan tulisan yang terkumpul, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian: (1) Seni Menjawab Tantangan Zaman, (2) Seni dan Politik.
Kategori Seni Menjawab Tantangan Zaman berisi tulisan Agustin Anggraeni, Annas Fitria Sa’adah, Galih Pangestu Jati, Megawati Atiyatunnajah, Retno Purwandari, Tri Septiana Kurniati & Eli Irawati, dan Umilia Rokhani.
Sementara itu, kategori Seni dan Politik berisi tulisan Kardi Laksono dan Puguh Windrawan.
Agustin Anggraeni mengulas interlanguage yang dihasilkan oleh mahasiswa Jurusan Tari dalam kedua keterampilan aktif saat belajar bahasa Inggris. Para siswa melakukan produksi interlanguage dalam mempraktikkan keterampilan menulis dan berbicara. Secara khusus, produksi kesalahan tertanam dalam interlanguage siswa, yaitu mereka melakukan kesalahan tata bahasa dan pengucapan. Kesalahan tata bahasa muncul karena bahasa target memiliki fitur tata bahasa yang lebih kompleks daripada bahasa ibu siswa dan kesalahan pengucapan terjadi karena tidak adanya beberapa fonem vokal, konsonan, dan diftong.
Annas Fitria Sa’adah menganalisis kontribusi pemakaian baju tradisional atau baju adat sebagai budaya lokal yang diterapkan pada siswa-siswi Yogyakarta setiap hari Kamis Pon, terhadap pembentukan pribadi yang berbudi pekerti dan berbudaya.
Galih Pangestu Jati mengeksplorasi konsep tubuh queer dalam kerangka poskolonial, dengan fokus pada bagaimana ruang tubuh dalam konteks queer dapat dipahami sebagai ruang yang ambigu dan dinamis. Artikel ini bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang bagaimana tubuh queer berinteraksi dengan struktur kekuasaan global dan lokal, serta menawarkan perspektif baru dalam studi queer dan poskolonial yang menyoroti sifat multidimensi dari identitas tubuh.
Pentingnya perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual dalam menghadapi tantangan industri kreatif global terhadap batik kriya Indonesia diulas oleh Megawati Atiyatunnajah. Perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual sangat penting untuk melindungi kekayaan budaya Indonesia, terutama batik kriya, dari praktik pengambilan keuntungan yang tidak sah dan merugikan para perajin batik.
Tulisan Tri Septiana Kurniati & Eli Irawati bertujuan untuk menghadirkan unsur India dalam karya seni Indonesia, misalnya yang terdapat pada tipe bangunan, sejarah kerajaan, cerita rakyat, bahasa, dan seni lainnya. Studinya menemukan bahwa orang India dengan eposnya seperti Ramayana dan Mahabharata terutama dengan gencarnya film Bollywood masuk ke Indonesia sangat memengaruhi sastra, seni, dan budaya di Indonesia seperti yang hadir dalam bentuk wayang, kerajinan kayu, seni lukis, seni batik, dan lain-lain.
Kategori Seni Menjawab Tantangan Zaman diakhiri dengan tulisan Umilia Rokhani. Ia mengulas transformasi selawat jawi. Selawat Jawi sebagai bagian dari seni tradisi di tengah masyarakat Jawa senantiasa menghadapi tantangan di tengah laju dinamika masyarakat yang tumbuh menjadi masyarakat modern. Laju dinamika tersebut membawa perubahan karakteristik masyarakat sehingga berdampak pula pada seni tradisi yang dibawanya. Dalam perkembangannya, selawat jawi selain berisi cerita kenabian, syiar agama Islam oleh Walisongo, dan juga kepahlawanan atau sikap patriotik pemimpin rakyat.
Kategori Seni dan Politik diawali oleh Kardi Laksono, yang membahas kehidupan politis pada masa sekarang ini di Indonesia berdasar pemikiran Arendt dan Habermas melalui pendekatan “tindakan” (action). Pendekatan “tindakan” ini memberikan pemahaman bahwa system demokrasi di Indonesia belum merupakan suatu bentuk demokrasi substansial.
Puguh Windrawan mengakhiri kategori Seni dan Politik dengan tulisan tentang kebebasan berekspresi pada zaman Orde Baru yang memang dibatasi dengan dimulainya pelarangan organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah itu, muncul aturan dan tafsir yang beragam terkait hal ini. Tentu saja, situasi ini menimbulkan kerugian pada proses kreativitas para seniman. Selayaknya seniman, beberapa dari mereka tetap memberikan perlawanan meskipun mendapat pengekangan. Perlawanan yang dilakukan berbuah karya seni dan biasanya berisikan kritikan, baik langsung maupun tidak. Bentuknya beragam, dari puisi sampai dengan karya musik disertai lirik yang puitis namun kritis.
Semoga bunga rampai ini bermanfaat dan diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mental, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Selamat membaca.