GOVERNANSI SENI Etika–Kepemimpinan–Keberlanjutan

Penulis: Sigit Pramono

Editor: Suwarno Wisetrotomo
Penyelaras Bahasa: Lelaki Budiman
Pembaca Pruf: Wikan Dewana Janmottama
Desain Sampul: Rosyita Nur Azizah
Ilustrasi Sampul Belakang: Sony Prasetyotomo
Sampul Depan: Batik Rifaiyah Motif Kawung Dollar,
Koleksi Rumah Batik Afifah, Bromo
Tim Fotografi: Ferry Ardiyanto, Satria Pramono, Sigit Pramono
Foto Profil: Satria Pramono
Penata Letak, Infografis: FX Widyatmoko ‘Koskow

ISBN:

Tahun Terbit: 2026

Stock: Klik Disini

Pertunjukan kesenian dan pameran seni rupa tidak hanya hasil inspirasi artistik plus beberapa menit ketegangan dan beberapa tetes keringat di kening.
Kita, yang biasa menyaksikan seni tradisi di panggung desa, misalnya yang diproduksi Sanggar Tari Mimi Rasinah di Indramayu, Cirebon, hanya mengenal proses yang disiapkan seakan-akan begitu saja, tanpa kerumitan. Pentas dibersihkan, dekor dipasang (kalaupun ada dekor), gambar kasar dibikin: sebuah gunung yang jauh, tiga batang pohon sebagai hutan, atau sebuah ruang tamu tanpa perabot.
Tapi zaman berubah, meskipun tak secara dramatis. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, terutama semenjak Gubernur Ali Sadikin membangun Taman Ismail Marzuki, dengan pengaruh yang sampai ke kota-kota lain, kesenian Indonesia mengenal persoalan yang dahulu tak pernah disadari. Kini kita perlu ruang pertunjukan, dengan kebutuhan akan tata lampu, dan lebih jauh lagi desain dinding dengan akustik. Para penampil tidak langsung muncul, perlu proses latihan–bahkan pendidikan formal. Ada juga kebutuhan budget dan pemasaran, juga dalam acara yang tidak komersial. Pendek kata, diam-diam, kesenian masuk dalam sektor modern sebagaimana bisnis kuliner dan pertandingan olahraga. Jasa Sigit Pramono dalam buku yang disusun dengan sistematik ini adalah menyadarkan–tanpa mengkhotbahi kita–adanya “revolusi” itu. Ini buku pertama di Indonesia, mungkin di Asia Tenggara, yang menghadirkan kesenian sebagai proses dan produk governansi.
Di awal buku kita menemukan semacam “dalil” yang perlu diperhatikan tiap seniman dan pendukung karya seninya, baik negara maupun masyarakat.” “Jika Anda berkesenian seorang diri, Anda cukup bermodal niat, tekad, dan semangat.” “Jika Anda berkesenian melibatkan lebih dari satu orang, Anda memerlukan manajemen yang baik.” “Jika Anda berkesenian melibatkan pemangku kepentingan yang beragam, menggunakan dana publik serta pertanggungjawaban publik, Anda dituntut menjalankan governansi yang baik.” Kata “revolusi” yang tadi saya pakai tentu berlebihan. Perlunya “governansi” (dalam pengertian dasar yang sederhana), pasti sudah disadari secara intuitif misalnya oleh pemilik grup wayang orang Ngesti Pandowo, Ki Narto Sabdo, seorang seniman jenius (yang juga entrepeneur) yang mendirikan kelompok seni pertunjukan itu pada pertengahan Juli 1937 di Madiun, sebelum akhirnya menetap di Semarang. Pembaruan teknologi pentas Ngesti Pandowo yang mampu membangun ilusi optik yang luar biasa waktu itu tentu memerlukan tim yang bisa membuat analisa keadaan, telaah bahan dan elemen-elemen lain. Dan, tentu saja, organisasi dan manajemen. Sigit Pramono memang tak menelaah secara rinci governansi Ngesti Pandowo. Grup ini sudah lama tak terdengar, dan tampaknya tak cukup dokumentasi yang bisa dimanfaatkan. Juga Dardanella, sebuah kelompok sandiwara yang didirikan di Sidoarjo, Jawa Timur pada 21 Juni tahun 1926 oleh Willy Klimanoff, seorang keturunanan Rusia yang lahir di Penang. Organisasi (atau lebih tepat “governansi”) pertunjukannya bisa diduga rumit tapi efektif, mengingat ia telah mentas di Singapura, Rangoon, Madras, Calcuta, New Delhi, Bombay, Baghdad, Basra, Kairo, Roma, Muenchen, Warsawa, dan Amsterdam.
Akan menarik dan sangat penting buat menelaah Ngesti Pandowo dan Dardanella. Dan itu akan membuktikan buku Sigit Pramono ini–sebagaimana laiknya karya yang bermanfaat– merupakan sebuah rangsangan yang diperlukan dalam studi tentang seni pertunjukan Indonesia, sebuah dunia yang kaya dan memikat