SURAN di LERENG ANDONG Performativitas  Sebuah Upacara

SURAN di LERENG ANDONG  Performativitas  Sebuah Upacara

Pengarang: Surya Farid Sathotho

Editor: Deddy Setyawan

Pengantar: Eli Irawati

Desain Cover: Wikan Nareswara

Tata Letak: Avril Ailsa

Proofreader: Jasmine Fairuz

Halaman: xiii + 166

ISBN: xxx-xxx-xxxx-x

Tahun Terbit: 2026

Stock: Klik Disini

Setiap tanggal 1 Sura, di sebuah dusun di lereng Gunung Andong, dua gunungan hasil bumi — lanang dan wadon — disiapkan selama dua hari penuh, diarak keliling dusun, lalu habis diperebutkan ribuan orang dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Ritual itu bernama Suran, dan usianya belum genap setengah abad: dimulai pada tahun 1980 oleh seorang sesepuh bernama Mbah Wariyo. Buku ini berangkat dari satu pertanyaan yang tidak sederhana — bagaimana ritual semuda itu tumbuh menjadi peristiwa yang diperlakukan seolah telah selalu ada?
Dengan pendekatan performance studies, Suran di sini tidak dibaca sebagai warisan yang tinggal didokumentasikan, melainkan sebagai praktik yang maknanya diproduksi ulang setiap tahun oleh para pendukungnya. Ritual ini dibaca melalui dua sudut pandang sekaligus, ditempatkan sebagai arena perebutan kekuasaan dalam kerangka Pierre Bourdieu dan sebagai proses liminal menurut Victor Turner, lalu gunungan, udhik-udhik, dan perangkat ritual lainnya dibaca sebagai sistem tanda melalui semiotika Charles S. Pierce.
Dari pembacaan berlapis itu muncul temuan yang sederhana tetapi tidak sepele: kekacauan rebutan bukanlah efek samping ritual, melainkan mesin yang menggerakkan daya gunanya. Semakin sungguh-sungguh orang berebut, semakin sah pula berkah yang mereka yakini didapat. Buku ini ditujukan bagi peneliti seni pertunjukan, antropologi, dan kajian budaya — juga bagi siapa pun yang ingin memahami bahwa tradisi bertahan bukan karena dibekukan, melainkan karena terus dihidupi.

Scroll to Top